I'm not living
I'm just killing time
Your tiny hands
Your crazy kitten smile
Just don't leave
Don't leave
dan waktu tiba-tiba terasa begitu panjang untuk dilewati. Dalam penantian itu aku menunggu, terlalu takut untuk mencoba menghubungi rangkaian nomor di kertas kecil ini. Setidaknya sudah beberapa kali aku terdiam di boks wartel dekat rumah, tangan gemetar jantung berpacu cepat hingga selalu kubatalkan niat. Bahkan hanya untuk sekedar berkata "halo apa kabar...?" hingga kubiarkan saja. Ini jauh lebih menakutkan buatku daripada pentungan rotan aparat yang seminggu lalu masih berbekas di punggung saat turun ke jalan mencoba menjungkalkan rezim orba yang sekarat. Lebih baik untuk dikeroyok sekumpulan preman dijalan atau seharian dijemur di depan sekolah karena menolak ikut upacara bendera ketimbang harus memulai sebuah pembicaraan dengan dia.
itu artinya aku harus kembali menunggu dan dua minggu bukanlah sebentar. Terutama jika di bulan November yang seharusnya hujan, entah kenapa justru langit tak menunjukan tanda - tandanya. Tetapi sekuntum bunga desember sudah mulai tumbuh kuncup di ujung tangkainya. Haemanthus multiflorus yang setahuku sejak kecil sudah ada disitu, di bawah pohon rambutan tua tepat di depan kamar tidurku. Semoga saja bunga itu tahu bahwa aku masih menunggu, mencoba bernyanyi mengisi waktu sebab di depan bunga itu adalah jalan gang berkerikil yang biasa ia lewati setiap malam minggu.
gelap berganti terang lalu kembali gelap dan begitu hari-hari berlalu. Terkadang terasa menyebalkan disaat seharusnya aku sudah memulai melakukan sesuatu. Hingga kemudian aku menjadi lebih mirip seorang perenung, duduk di kursi kayu berangka besi yang memanjang di depan kamar. Aku lebih suka sendiri sekarang, memikirkan cara, mengarang setiap suku kata, dan sialnya beberapa kawan justru melihat gelagat bisu yang terjadi padaku. Hingga tanpa kutahu, diam-diam mereka juga bersiasat memikirkan sebuah cara. Atau mungkin sebenarnya mereka juga kasihan melihat kawan cangkruknya ini tidak lagi seperti biasanya. hahahahaha...... Setidaknya kali ini saya yang paling aneh diantara mereka, sebab bukan rahasia umum kalau kawan-kawan yang kumpul dirumah saya adalah remaja yang tidak biasa. Potongan rambut warna warni, sepatu boot tentara, rantai besar tergantung di celana, kaus penuh dengan emblem dan coretan slogan, nongkrong di matahari plaza tiap minggu, tawuran disini sana, nyanyi lagu-lagu protes, bergabung dengan demonstrasi mahasiswa, sungguh di tahun menjelang akhir 98 ini. Kami ini bukanlah seperti anak smu lainnya. Cukup untuk membuat para orang tua di kampung mengelus dada, berharap agar anak-anak mereka tak terjerumus seperti kami adanya.
hingga dua hari menjelang desember, langit mendung lalu meneteskan rintik-rintik air menjadi hujan. Bau tanah yang basah, suara gelegar guntur yang bersahutan, langit menjadi gelap serta tadi pagi aku mendapat kabar dia akan segera kembali ke kota ini dari tetanggaku. Maka ini seperti hari besar nan istimewa buatku, terlalu susah untuk tak tergoda menikmati kesenangan ini di bawah hujan. Kuambil sepeda mustang setengah karatan di gudang, hari ini aku ingin berkeliling kota kecil ini. Menyusuri jalanan, menatap lampu-lampu taman, melalui beberapa halte dimana banyak orang berteduh dibawahnya.
bersambung lagi di postingan berikutnya..........
wah curang..ceritanya part2 an kang.ayoh ndang di post selanjutnya,hahaha malih penasaran koyo jaman oleh silihan tetralogi pram :)
BalasHapushaahahaha,.... wah ternyata ada yg baca. sabar dulu mas/mbk 138, nanti kalo sdh gak sibuk tulis menulis dilanjut. maturnuwun sanget
BalasHapusduh gak jadi ngeden -_-
BalasHapus