"I'll drown my beliefs
To have you be in peace
I'll dress like your niece
And wash your swollen feet
Just don't leave
Don't leave"
Tepat... ketika lagu "true love waits" nya radiohead ini mengalun di winamp komputer warnet ini. Tiba-tiba saja saya seperti terlempar kembali mengenang beberapa saat masih bersama dengan seseorang yang dulu sekali pernah saya cintai. (jiahhh... hahaha) Tetapi ironisnya kisah "jatuh cinta" saya itu, seingat saya adalah yang pertama dan belum pernah terjadi lagi hingga sekarang sampai saya menulis di blog ini. Sungguh jatuh cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat, dikondisikan, dipaksakan atau apalah namanya dan hingga saat ini masih menjadi misteri buat saya.
Eka , begitu dulu saya memanggilnya. Perempuan bertubuh kurus dengan rambut potongan polwan dan hiasan jerawat di wajahnya itu pernah membuat saya gak bisa tidur beberapa malam untuk memikirkan berbagai cara agar ada kesempatan ngobrol bareng atau kalau bisa nyari peluang untuk bisa menyampaikan ketertarikan saya. Dan satu-satunya kesempatan adalah tiap malam minggu dimana dia seringkali lewat depan rumah saya menuju rumah teman sekolahnya yang satu kampung dengan saya. Hingga beberapa bulan kemudian kesempatan sekali seumur hidup itu datang, ketika temannya yang tetangga saya itu mampir kerumah dan saya meminta bantuan agar bisa berkenalan.
Beberapa minggu sesudahnya (karena memang sudah mengatur siasat sebelumnya :D ) , akhirnya dia datang kerumah saya bersama kawannya yang tetangga saya itu. Ah.... betapa tidak karuan (menentu) perasaan saya campur aduk antara seneng takut grogi dan bodohnya 25 menit setelah berkenalan saya justru gak bisa ngomong apa2. Otak saya terasa sumbat dan gak ada ide apapun untuk jadi bahan pembicaraan. Sampai saat saya sudah mulai menguasai keadaan dan akan mulai sebuah percakapan tiba.2 dia segera berpamitan untuk pulang ke lumajang dan baru bulan depan setelah liburan sekolah akan kembali ke jember. Saya dan kawannya mengantar ke depan gang menanti angkot sebentar dan dia pergi sambil memberikan sepotong kertas berisi nomor telfon rumahnya untuk sahabatnya yang tetangga saya itu. Lalu sahabatnya itu memberikan kertas itu dan sayapun berterima kasih kepadanya lalu menyimpan harta karun kecil itu di saku celana dan bergegas pulang.
berhubung paket di warnet sudah menjelang detik akhir,.. tulisan ini bersambung di lain kesempatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar