Kamis, 15 Maret 2012

Part II : Gelap Terang Menanti Esok Hujan



I'm not living
I'm just killing time
Your tiny hands
Your crazy kitten smile

Just don't leave
Don't leave










dan waktu tiba-tiba terasa begitu panjang untuk dilewati. Dalam penantian itu aku menunggu, terlalu takut untuk mencoba menghubungi rangkaian nomor di kertas kecil ini. Setidaknya sudah beberapa kali aku terdiam di boks wartel dekat rumah, tangan gemetar jantung berpacu cepat hingga selalu kubatalkan niat. Bahkan hanya untuk sekedar berkata "halo apa kabar...?" hingga kubiarkan saja. Ini jauh lebih menakutkan buatku daripada pentungan rotan aparat yang seminggu lalu masih berbekas di punggung saat turun ke jalan mencoba menjungkalkan rezim orba yang sekarat. Lebih baik untuk dikeroyok sekumpulan preman dijalan atau seharian dijemur di depan sekolah karena menolak ikut upacara bendera ketimbang harus memulai sebuah pembicaraan dengan dia.


itu artinya aku harus kembali menunggu dan dua minggu bukanlah sebentar. Terutama jika di bulan November yang seharusnya hujan, entah kenapa justru langit tak menunjukan tanda - tandanya. Tetapi sekuntum bunga desember sudah mulai tumbuh kuncup di ujung tangkainya. Haemanthus multiflorus yang setahuku sejak kecil sudah ada disitu, di bawah pohon rambutan tua tepat di depan kamar tidurku. Semoga saja bunga itu tahu bahwa aku masih menunggu, mencoba bernyanyi mengisi waktu sebab di depan bunga itu adalah jalan gang berkerikil yang biasa ia lewati setiap malam minggu.


gelap berganti terang lalu kembali gelap dan begitu hari-hari berlalu. Terkadang terasa menyebalkan disaat seharusnya aku sudah memulai melakukan sesuatu. Hingga kemudian aku menjadi lebih mirip seorang perenung, duduk di kursi kayu berangka besi yang memanjang di depan kamar. Aku lebih suka sendiri sekarang, memikirkan cara, mengarang setiap suku kata, dan sialnya beberapa kawan justru melihat gelagat bisu yang terjadi padaku. Hingga tanpa kutahu, diam-diam mereka juga bersiasat memikirkan sebuah cara. Atau mungkin sebenarnya mereka juga kasihan melihat kawan cangkruknya ini tidak lagi seperti biasanya. hahahahaha...... Setidaknya kali ini saya yang paling aneh diantara mereka, sebab bukan rahasia umum kalau kawan-kawan yang kumpul dirumah saya adalah remaja yang tidak biasa. Potongan rambut warna warni, sepatu boot tentara, rantai besar tergantung di celana, kaus penuh dengan emblem dan coretan slogan, nongkrong di matahari plaza tiap minggu, tawuran disini sana, nyanyi lagu-lagu protes, bergabung dengan demonstrasi mahasiswa, sungguh di tahun menjelang akhir 98 ini. Kami ini bukanlah seperti anak smu lainnya. Cukup untuk membuat para orang tua di kampung mengelus dada, berharap agar anak-anak mereka tak terjerumus seperti kami adanya.


hingga dua hari menjelang desember, langit mendung lalu meneteskan rintik-rintik air menjadi hujan. Bau tanah yang basah, suara gelegar guntur yang bersahutan, langit menjadi gelap serta tadi pagi aku mendapat kabar dia akan segera kembali ke kota ini dari tetanggaku. Maka ini seperti hari besar nan istimewa buatku, terlalu susah untuk tak tergoda menikmati kesenangan ini di bawah hujan. Kuambil sepeda mustang setengah karatan di gudang, hari ini aku ingin berkeliling kota kecil ini. Menyusuri jalanan, menatap lampu-lampu taman, melalui beberapa halte dimana banyak orang berteduh dibawahnya.






bersambung lagi di postingan berikutnya..........



Rabu, 14 Maret 2012

Part I :Radiohead Dan Dia Yang Masih Kukenang





"I'll drown my beliefs
 To have you be in peace
 I'll dress like your niece
 And wash your swollen feet

 Just don't leave
 Don't leave"







Tepat... ketika lagu "true love waits" nya radiohead ini mengalun di winamp komputer warnet ini. Tiba-tiba saja saya seperti terlempar kembali mengenang beberapa saat masih bersama dengan seseorang yang dulu sekali  pernah saya cintai. (jiahhh... hahaha) Tetapi ironisnya kisah "jatuh cinta" saya itu, seingat saya adalah yang pertama dan belum pernah terjadi lagi hingga sekarang sampai saya menulis di blog ini. Sungguh jatuh cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat, dikondisikan, dipaksakan atau apalah namanya dan hingga saat ini masih menjadi misteri buat saya.

Eka , begitu dulu saya memanggilnya. Perempuan bertubuh kurus dengan rambut potongan polwan dan hiasan jerawat di wajahnya itu pernah membuat saya gak bisa tidur beberapa malam untuk memikirkan berbagai cara agar ada kesempatan ngobrol bareng atau kalau bisa nyari peluang untuk bisa menyampaikan ketertarikan saya. Dan satu-satunya kesempatan adalah tiap malam minggu dimana dia seringkali lewat depan rumah saya menuju rumah teman sekolahnya yang satu kampung dengan saya. Hingga beberapa bulan kemudian kesempatan sekali seumur hidup itu datang, ketika temannya yang tetangga saya itu mampir kerumah dan saya meminta bantuan agar bisa berkenalan.

Beberapa minggu sesudahnya (karena memang sudah mengatur siasat sebelumnya :D ) , akhirnya dia datang kerumah saya bersama kawannya yang tetangga saya itu. Ah.... betapa tidak karuan (menentu) perasaan saya campur aduk antara seneng takut grogi dan bodohnya 25 menit setelah berkenalan saya justru gak bisa ngomong apa2. Otak saya terasa sumbat dan gak ada ide apapun untuk jadi bahan pembicaraan. Sampai saat saya sudah mulai menguasai keadaan dan akan mulai sebuah percakapan tiba.2 dia segera berpamitan untuk pulang ke lumajang dan baru bulan depan setelah liburan sekolah akan kembali ke jember. Saya dan kawannya mengantar ke depan gang menanti angkot sebentar dan dia pergi sambil memberikan sepotong kertas berisi nomor telfon rumahnya untuk sahabatnya yang tetangga saya itu. Lalu sahabatnya itu memberikan kertas itu dan sayapun berterima kasih kepadanya lalu menyimpan harta karun kecil itu di saku celana dan bergegas pulang.


berhubung paket di warnet sudah menjelang detik akhir,.. tulisan ini bersambung di lain kesempatan
Dan aku memulainya dengan menekan tiap tombol huruf menghimpun kata, barisan kata menjadi kalimat - kalimat sederhana dan mungkin saja rentetan huruf ini kelak akan bicara, bercerita, berkeluh kesah atau mungkin banyak lagi hal lainnya. Sebagaimana Ibuku pernah menuntun mengucap aksara mengenalkanku akan bahasa mengantarku ke gerbang sekolah, menanti sepulang latihan koor di gereja, mengingatkanku agar tidak bolos lagi ngaji di musholla. Tentu juga Bapak yang sekalipun sebentar, beliau telah membuatku mengerti bahwa hidup terkadang juga boleh sedikit bersenang-senang agar tak terlalu membosankan. Seindah menghirup kopi, menghisap rokok, main band punk, pentungan rotan aparat, mengecat rambut, coret baju seragam, stensil di dinding, atau sungguh betapa beliau tetap sabar dan tersenyum saat surat panggilan dari kepala sekolah sudah datang untuk yang ke-12 kalinya atas berbagai "pemberontakan" kecilku di masa smu. Maka sebuah blog ini mulai kutuliskan sebagai pengenang, sebagai pengingat atas betapa banyak aku berhutang pada ke dua orang tuaku, kawan-kawan hebat yang datang dan pergi tetapi sungguh beruntung pernah mengenal dan berbagi suka duka dengan mereka. Dan sebuah perjalanan yang belum usai..................